Ketatnya Aturan Bea Impor Pengaruhi Bisnis Jasa Titip

93
Bea cukai jasa titip

Dengan adanya pengetatan aturan bea impor barang, rupanya banyak pengusaha jasa titip yang lebih memilih untuk berhenti sementara untuk mengimpor barang serta menahan jual stok produk impor hingga batas waktu yang masih belum bisa ditentukan hingga kapan. Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan pengetatan terhadap aturan batas harga barang yang dikenai bea masuk pastinya berpengaruh terhadap bisnis jasa titip barang dari luar negeri. Adanya pengetatan aturan tersebut pastinya cukup memberatkan bagi para pengusaha jasa titip.

Hal ini berbeda dengan sebelumnya yang bisa dilakukan dengan lebih mudah bahkan bisa memungkinkan untuk mendapatkan free shipping. Pada saat ini, pengusaha jasa titip harus membayar bahkan mencapai sekitar dua kali lipat. Sebagian pebisnis jasa titip lebih memilih untuk menarik kembali barangnya serta memberi refund kepada para pelanggan. Ini dinilai sebagai solusi terbaik dengan kondisi dan situasi saat ini.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan telah mengeluarkan aturan baru terkait dengan barang kiriman dari luar negeri. batas harga barang yang dikenai bea impor adalah US$ 250 atau sekitar Rp 3,31 juta (dengan asumsi kurs Rp 13.252 per dolar Amerika Serikat) untuk personal dan US$ 1000 atau sekitar Rp 13,25 juta untuk keluarga. Jadi ketika terjadi pembelian suatu barang dari luar negeri dengan nilai di atas batas harga maka tentu harus membayar bea impor.

Besarnya bea impor tersebut yang menjadi salah satu kendala bagi berbagai perusahaan yang menyediakan layanan jasa titip pembelian berbagai produk luar negeri. Sambil menunggu situasi yang lebih stabil dan mengatur harga produk bagi konsumen, sebagian besar pebisnis jasa titip lebih memilih untuk menghentikan sementara bisnis yang dilakukan tersebut baik dari aktivitas impor barang ataupun menjual barang yang sudah masuk.

Namun demikian, menurut Heru Pambudi, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa pembayaran bea impor tersebut tidak dibayarkan kepada petugas melainkan dibayarkan melalui mesin electronic data capture (EDC). Dengan sistem pembayaran demikian, hal ini bisa mengurangi kekhawatiran masyarakat terkait adanya oknum-oknum yang ingin memanfaatkan kesempatan karena semua pembayaran bea impor langsung masuk ke dalam kas negara.