Kirab Malam Satu Suro di Surakarta Diawali dengan Tujuh Kebo Kiai Slamet

80
Malam Satu Suro

Malam satu Suro sepertinya memiliki arti penting bagi lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada peringatan malam satu Suro tahun inipun, suasana sakral nampak menyelimuti dengan adanya pelaksanaan kirab pusaka. Rangkaian kirab tersebut diawali dengan keluarnya tujuh ekor kebo bule atau yang lebih dikenal dengan kebo Kiai Slamet dari gerbang timur Kori Kamandungan. Pada proses selanjutnya, muncullah lima orang yang disebut sebagai Semut Ireng yang menyebar ketela untuk dimakan para kerbau tersebut.

Setelah setengah jam kemudian, para abdi dalem yang terdiri dari beberapa wanita keluar dari pintu utama Kori Kamandungan sambil membawa sesaji yang diberikan kepada ketujuh kerbau. Selanjutnya, sekitar pukul 23.00 WIB pada hari Kamis (21/9/2017) puluhan abdi dalem, keluarga keraton, serta kerabat keraton keluar dari pintu utama sambil membawa 17 pusaka keraton.

Pada prosesi kirab pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, urutan pertama ada ketujuh kebo bule atau kebo Kiai Slamet yang sekaligus sebagai pembuka jalan bagi arak-arakan pusaka. Ada moment unik pada prosesi kirab pusaka tersebut di mana pada saat bersamaan dengan mulai jalannya ketujuh kebo Kiai Slamet maka masyarakat yang sebelumnya sudah memadati kawasan Keraton saling berebut sisa makanan ataupun minuman kerbau karena hal ini diyakini bisa membawa keberkahan. Ternyata, tak hanya sisa makanan ataupun minuman kebo bule saja yang diperebutkan oleh masyarakat tetapi juga kotorannya.

Rute kirab pusaka Keraton Kasunanan Surakarta dimulai dari Kori Kamandungan menuju ke Alun-Alun Utara, Simpang Empat Jenderal Sudirman lalu berbelok ke kanan menuju ke Jalan Mayor Kusmanto menuju ke Jalan Mulyadi, lalu ke arah selatan hingga ke Baturono, selanjutnya ke kanan menuju ke Jalan Veteran, dilanjutkan ke Jalan Yos Sudarso terus hingga ke Jalan Slamet Riyadi dam akhirnya kembali ke Keraton.

Prosesi sakral seperti kirab pusaka milik Keraton Kasunan Surakarta pada malam satu suro menjadi salah satu budaya Jawa yang pastinya sangat perlu untuk dilestarikan. Dengan tetap menjaga dan melestarikan budaya leluhur, hal ini akan mampu membawa generasi muda bangsa ini tetap mengingat akan nilai-nilai luhur dari sebuah kebudayaan yang ada pada bangsa ini.