Budaya Indonesia Mendapat Antusias Tinggi pada Festival Filipina

48
Budaya Indonesia

Ketika budaya Indonesia mulai menghilang di negeri sendiri, rupanya hal ini tidak demikian saat pertunjukan budaya dari Indonesia di bawa ke kancah internasional. Hal ini terbukti dengan antusias yang sangat tinggi dari hadirin yang berjumlah lebih dari 1000 orang turut memadati gedung pertunjukan di SM Mall General Santos Citi, Filipina untuk menyambut kemeriahan rangkaian tarian tradisional Indonesia yang dengan cantiknya ditampilkan oleh kelompok tari Ayodya Pala Indonesia.

Konsul Jenderal RI Davao City, Berlian Napitupulu menjelaskan bahwa ada sebanyak enam tarian dinamis dari berbagai daerah seperti Tari Mojang, Tari Legong, Tari Bhineka, Tari Piring, Tari Rampak Kipah, serta Tari Nandak Ganjen yang ditampilkan dengan apik dan lincah secara sambung menyambung oleh 12 penari profesional yang berasal dari Depok.

Setelah pertunjukan tari selesai, puluhan penton tampak memberikan apresiasi yang luar biasa dengan memasuki panggung untuk berfoto, memberikan bunga, ataupun sekedar bersalaman dengan para penari. Keriuhan yang terjadi di panggung tersebut hingga membuat pihak MC harus menegur penonton untuk meninggalkan panggung untuk memberikan kesempatan bagi para penari yang telah melakukan pertunjukan beristirahat.

Antusias dari penonton rupanya tak berhenti sampai di situ saja. para penonton meneriakkan yel yel seperti ‘thank you Indonesia’ ‘we love you Indonesia’ ‘Indonesia..Indonesia’ saat para penari meninggalkan panggung. Tepuk tangan serta teriakan yel yel tersebut menjadi puncak apresiasi dari publik general Santos City terhadap penampilan para penari yang merupakan delegasi dari Indonesia pada ajang BIMP EAGA Festival of Culture di Filipina.

Sebelum pertunjukan tari tradisional, Sekolah Indonesia Davao juga menampilkan pertunjukan seni tradisional Indonesia yaitu angklung interaktif yang juga mampu meninggalkan kesan tersendiri bagi para hadirin. Dalam hitungan menit saja, para hadirin yang mana mayoritas adalah pelajar serta pemuda General Santos City berhasil memainkan lagu-lagu berbahasa Inggris serta Tagalog dengan iringan alunan angklung yang merdu dan indah. Hal ini pastinya mampu memberikan kesan mendalam karena bisa mendendangkan lagu setempat dengan iringan angklung yang unik.

Ini semakin menunjukkan bahwa budaya Indonesia memang bukan hal yang bisa dianggap main-main dan biasa saja karena ini merupakan sebuah aset dan harta yang dimiliki bangsa ini.

Festival BIMP EAGA sendiri baru pertama kali diselenggarakan dan diikuti oleh empat negara yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, serta Filipina.