Konser Dream Theater Dipindahkan dari Prambanan Setelah Diprotes Arkeolog

28
Dream Theater Yogyakarta

Konser Dream Theater dan beberapa grup cadas yang bertajuk JogjaRocKarta dipindahkan dari rencana lokasi semula di pelataran Candi Prambanan ke tempat lain. Hal ini dilakukan setelah sebuah protes  dilayangkan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).

Sebelumnya, konser JogjaRocKarta telah mendapatkan persetujuan pelaksanaan di pelataran Candi Prambanan. Namun, karena adanya protes yang dilayangkan IAAI, pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk menghargai protes tersebut dan memerintahkan untuk memindahkan konser ke lokasi lain. Akhirnya, Konser Dream Theater tersebut dipindahkan ke Stadion Kridosono.

Protes yang dilayangkan IAAI didasarkan pada resiko rusaknya struktur candi akibat getaran dan intensitas suara yang keras saat konser berlangsung. Terlebih lagi, konser ini merupakan konser rock yang merupakan musik keras sehingga getarannya lebih kuat dari musik lainnya. Ditakutkan, struktur ikatan pada batu-batu candi akan rusak karena getaran tersebut.

Pemerintah sendiri sebelumnya memberikan ijin karena adanya kelowongan dalam peraturan pemerintah tentang pelaksanaan acara di pelataran candi. Selama ini memang sudah ada nilai ambang batas yang dianggap berpotensi merusak struktur candi. Untuk intensitas suara, ambang batasnya adalah 60 dB sedangkan untuk tingkat getaran adalah 2 mm/detik. Namun, nilai ini belum ditetapkan sebagai peraturan baku dalam pemberian ijin pelaksanaan suatu acara di pelataran candi. Oleh karena itulah, sebelumnya juga pernah dilaksanakan konser Jazz di pelataran Candi Prambanan pada bulan Agustus yang lalu.

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Tim Balai Konservasi Borobudur disaat pelaksanaan konser Jazz di Prambanan yang lalu, didapatkan hasil yang mengkhawatirkan karena tingkat kebisingan terukur berada di atas ambang batas 60 dB. Sedangkan untuk tingkat getaran masih jauh dibawah ambang batas. Berdasarkan pengalaman itulah para arkeolog melayangkan protes dengan tujuan mencegah hal-hal yang membahayakan candi yang usianya sudah lebih dari seribu tahun itu.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid sendiri mengatakan bahwa masalah peraturan ini sekarang menjadi PR bagi DitJen Kebudayaan untuk segera digodok dan diperjelas. “Buat saya yang penting sekarang soal kejelasan aturannya. Ini PR besar Ditjen Kebudayaan. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh”, begitu katanya.