Tokoh Indonesia: Bagong Kussudiardjo Kembali Jadi Google Doodle

29
Bagong Kussudiardjo

Sebagai salah satu peringatan kelahiran dari tokoh kenamaan Indonesia, yaitu Bagong Kussudiardjo, yaitu tanggal 9 Oktober 1928, maka beliau telah menjadi Google doodle. Bagong yang lahir di Yogyakarta, memang terkenal sebagai pelukis senior dan koreografer. Karyanya telah banyak mendapatkan banyak apresiasi, baik di dalam hingga ke mancanegara. Di dalam laman utama Google, sosok Bagong digambarkan tengah duduk diatas kursi sembari memegang kuas cat. Sedangkan latar belakang dari tokoh kartun tersebut terdapat lukisan yang menggambarkan para penari memakai kostum sedang melompat dengan gembira. Sementara itu, di awal karirnya, beliau mempelajari tari, musik, dan seni Jawa. Bahkan, hingga kini, sanggarnya yang berada di daerah Sembungan, Kasihan, Bantul, masih sering menampilkan beragam kesenian.

Selain budaya Jawa, Bagong Kussudiardjo, juga sempat mempelajari tari India maupun Jepang. Sedangkan untuk masalah koreografi, Martha Graham merupakan guru beliau. Hal ini dipelajari oleh beliau di Amerika Serikat. Sementara itu, masa belajar yang ditempuh mulai dari tahun 1957-1958. Hal inilah yang kemudian menjadi modal awal untuk bisa mendirikan Padepokan beliau. Padepokan ini berdiri pada tahun 1978 di Bantul. Berbagai kesenian pertunjukan sering ditampilkan di tempat ini. Masyarakat umum bisa secara bebas menonton dengan gratis untuk bisa menikmati pertunjukan tersebut. Bahkan, tempat ini sempat menjadi salah satu tempat syuting untuk film AADC 2. Tentu saja hal ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua puteranya, yaitu Djaduk Ferianto dan Butet Kertarajasa.

Putera dari Bagong Kussudiardjo, yaitu Dajduk Ferianto tidak kalah berprestasi dengan ayahnya. Beliau telah menghasilkan tarian dengan jumlah 200 lebih. Beberapa tarian tersebut adalah Berdhaya Gendeng, Satria Tangguh, dan Layang-layang. Selain sebagai tokoh koreografi, Bagong juga dikenal sebagai pelukis. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah lukisan batik dengan gaya realis, impresionis, hingga abstrak. Seniman asal Yogyakarta ini tutup usia di tahun 2004. Beragam karyanya patut untuk dikenang. Bahkan, warisan kesenian yang ditinggalkan oleh beliau terwujud dalam padepokan yang dipelopori olehnya.