PKH sebagai Upaya Mengentaskan Angka Kemiskinan di Indonesia

38
PKH

PKH merupakan sebuah program dalam hal perlindungan sosial yaitu dengan memberikan bantuan kepada RTSM berupa uang yaitu non tunai. Para penerima tersebut mempunyai ibu hamil/menyusui/nifas. Selain itu, syarat lainnya adalah mempunyai anak balita dan anak usia 5 hingga 7 tahun dimana belum masuk ke pendidikan tingkat dasar maupun menengah. Tidak hanya anak yang belum masuk sekolah tingkat dasar, tetapi juga anak yang telah masuk ke sekolah dasar. Kemudian, syarat tambahan lainnya adalah mempunyai anak pada usia 15 hingga 18 tahun dimana belum menyelesaikan pada pendidikan dasar. Sementara itu, para peserta penerima tadi diberikan bantuan bila telah mengirim anaknya sekolah dengan kehadiran tertentu. Selain itu, anak tersebut juga telah diperiksakan kesehatan serta diperhatikan kecukupan gizinya. Anak tersebut juga mengikuti pola hidup yang sehat baik ibu hamil dan anak.

Sedangkan penerima dari PKH sendiri mengalami peningkatan dari sebelumnya yaitu 6 juta menjadi 10 juta pada tahun 2018 mendatang. Sebagai langkah untuk mengatasi adanya penambahan tersebut, maka pihak Kemensos membuka rekruitmen terkait dengan pendamping untuk memberikan bantuan dengan jumlah total 16.092. Sedangkan pihak Kemensos mengatakan bahwa peran dari para pendamping bersifat vital. Sebab, di tangan para pendamping tersebut, keberhasilan dari program ini ditentukan.

Sedangkan tujuan dari PKH sendiri yaitu mengurangi angka serta memutus rantai dari kemiskinan. Selain itu, dengan adanya program ini, maka bisa meningkatkan kualitas dari SDM. Di samping itu, dengan suksesnya program ini bisa mengubah dari perilaku dimana mengurangi dukungan dari adanya peningkatan untuk kesejahteraan untuk kelompok yang paling miskin. Program untuk mengentaskan kemiskinan ini telah dimulai pada tahun 2012. Sementara itu, dalam hal memperbaiki sasaran dari penerima bantuan tersebut, maka data awal diambil dari hasil PPLS di tahun 2011. Kemudian, sasaran dari PKH yang sebelumnya menggunakan basis rumah tangga, kemudian diubah menjadi basis keluarga. Adanya perubahan tersebut sebagai bentuk akomodasi dari prinsip dari sebuah keluarga. Dengan demikian, orang tua mempunyai tanggung jawab terkait dengan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, serta masa depan dari seorang anak.